Satu pesawat baru saja lepas landas, sementara pesawat lain sudah bersiap mendarat. Lalu-lalang koper, suara pengumuman yang bergema, langkah-langkah yang terburu-buru, semua berpadu jadi satu harmoni hiruk pikuk bandara.
Namun diantara segala keramaian itu, ada tugas krusial untuk memastikan kenyamanan semua orang di sana. Lantai bandara mengkilap, harum, dan bebas debu, sebagian besar dari kita luput bertanya: siapa yang memastikan permukaan itu tetap bersih meski ribuan kaki melintas setiap jam?
Sebagai perusahaan yang menyediakan layanan pendukung fasilitas terintegrasi di area bandara, IAS Support Indonesia (IASS) menjaga kebersihan seluruh area. Misalnya saja di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, dengan luas mencapai lebih dari 422 ribu meter persegi, luasnya ibarat kota kecil yang beroperasi 24 jam. Dan seperti kota mana pun, ia harus tetap tertata, aman, dan nyaman, tak peduli berapa banyak langkah melintasinya.
Tantangannya? Membersihkan area sebesar itu bukan perkara sapu dan pel saja. Di tengah jadwal penerbangan yang padat, tiap meter lantai harus kering lebih cepat, tak boleh dibiarkan licin dan menimbulkan risiko bagi pengunjung bandara.
Untuk menjawab tantangan tersebut, IASS menghadirkan teknologi robotic cleaning sebagai bagian dari inovasi layanan kebersihan berstandar internasional. Teknologi ini memastikan efisiensi operasional tanpa mengurangi kualitas hasil. Perangkat autonomous floor scrubber atau mesin pembersih lantai robotik dioperasikan untuk bekerja secara mandiri di area dengan high traffic yang membutuhkan pembersihan berulang dan presisi tinggi setiap harinya.
Teknologi ini pun menjadi representasi masa depan kerja kebersihan: senyap, efisien, dan presisi. Menurut spesifikasi industri, perangkat robotic cleaning generasi terkini mampu membersihkan antara 1.000-2.000 meter persegi per jam. Dilengkapi dengan sensor yang memetakan jalur lintasan kerja dan sistem pengering yang cepat bahkan dalam hitungan menit.
Bukan hanya dari sisi kecepatan saja, dampak positif juga terjadi di sisi manpower. Unit facility care kini tak lagi hanya mahir menggunakan alat pel dan sapu, tapi juga mampu mengatur pengendali perangkat robotik. Mereka bukan lagi petugas kebersihan biasa dalam pengertian lama, melainkan pengelola sistem kebersihan yang cerdas. Artinya, teknologi tidak menggantikan mereka, tetapi justru memperluas ruang keahlian mereka.
Bagi IASS, inilah bentuk nyata dari filosofi layanan fasilitas yang berbasis kolaborasi antara manusia dan teknologi. Bahwa setiap inovasi, secanggih apapun akan sempurna dengan empati dan ketelitian manusia di baliknya.
Maka lain kali ketika kamu berjalan di bandara dan melihat lantai yang berkilau tanpa noda, mungkin di sana ada robot yang diam-diam lewat, diiringi langkah seorang petugas yang bangga pada pekerjaannya. Mereka menjaga ruang publik itu tetap bersih, aman, dan layak disebut “gerbang pertama negara”.





